Cara Menanam Temulawak yang Baik dan Benar

biotifor.or.idCara Menanam Temulawak – Temulawak adalah salah satu tanaman obat yang berasal dari Indonesia. Tanaman ini memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, seperti meningkatkan nafsu makan, menjaga kesehatan hati, menurunkan kolesterol, mencegah kanker, dan lain-lain. Temulawak juga sering dijadikan bahan utama untuk membuat jamu tradisional.

Temulawak memiliki bentuk rimpang yang berwarna kuning atau coklat kemerahan. Rimpang inilah yang biasanya dimanfaatkan sebagai obat. Rimpang temulawak mengandung zat tepung, kurkumin, dan minyak asiri yang berkhasiat. Selain rimpang, daun dan bunga temulawak juga bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Cara Menanam Temulawak

Temulawak termasuk tanaman yang mudah dibudidayakan. Tanaman ini bisa tumbuh di berbagai jenis tanah dan iklim. Namun, ada beberapa syarat tumbuh dan cara menanam temulawak yang harus diperhatikan agar hasil panen maksimal. Berikut ini adalah cara menanam temulawak yang baik dan benar.

Persiapan Lahan

Lahan yang digunakan untuk menanam temulawak harus bersih dari gulma dan tanaman pengganggu lainnya. Lahan juga harus dicangkul atau dibajak sedalam 30 cm agar tanah menjadi gembur dan berdrainase baik. Tanah yang gembur akan memudahkan rimpang temulawak berkembang.

Lahan yang cocok untuk menanam temulawak adalah lahan yang subur dan mengandung banyak bahan organik. Bahan organik bisa diperoleh dari pupuk kandang atau kompos. Campurkan pupuk kandang atau kompos dengan tanah dengan perbandingan 1:1. Biarkan campuran tersebut selama semalam agar nutrisi terserap oleh tanah.

Selain itu, lahan juga harus memiliki pH tanah yang sesuai dengan kebutuhan tanaman temulawak. Menurut [Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik], pH tanah yang ideal untuk menanam temulawak adalah 5,5-6,5. Jika pH tanah terlalu asam atau terlalu basa, maka perlu dilakukan penyesuaian dengan cara memberikan kapur atau dolomit.

Baca Juga  Tanaman Pengusir Nyamuk - Pelindung Alami Ampuh dan Efektif

Pemilihan Bibit Temulawak

Pemilihan Bibit Temulawak

Bibit temulawak bisa diperoleh dari rimpang induk yang sehat dan besar. Rimpang induk harus berusia minimal 10-12 bulan agar memiliki kualitas baik. Potong rimpang induk menjadi beberapa bagian, masing-masing bagian harus memiliki 2-3 mata tunas.

Jemur potongan rimpang selama 3-4 jam per hari selama 4-6 hari agar tidak mudah busuk. Setelah itu, rendam potongan rimpang dalam larutan pupuk organik cair selama beberapa menit agar lebih subur. Tiriskan potongan rimpang dan simpan di tempat lembab dan gelap selama 1-2 bulan sampai tunas tumbuh.

Selain menggunakan rimpang induk, bibit temulawak juga bisa diperoleh dari biji temulawak. Biji temulawak bisa didapatkan dari bunga temulawak yang sudah mekar. Biji temulawak harus disemai terlebih dahulu di dalam polybag atau bedengan sebelum dipindahkan ke lahan.

Penanaman Bibit

Penanaman bibit temulawak sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan agar tanaman mendapatkan cukup air. Buat lubang tanam dengan jarak antara lubang 30-40 cm dan jarak antara baris 60-80 cm. Lubang tanam harus sesuai dengan ukuran bibit.

Masukkan bibit ke dalam lubang tanam dengan posisi mata tunas menghadap ke atas. Timbun bibit dengan tanah sampai setengah lubang, jangan sampai mata tunas tertutup tanah. Siram bibit dengan air secukupnya agar lembab.

Baca Juga | Manfaat Temulawak: Khasiat dan Keunggulan Tanaman Herbal

Perawatan Tanaman

Perawatan tanaman temulawak meliputi penyiraman, penyiangan, pemupukan, dan pengendalian hama dan penyakit. Penyiraman dilakukan secara rutin setiap hari pada pagi atau sore hari, terutama pada musim kemarau. Penyiangan dilakukan untuk membersihkan gulma yang tumbuh di sekitar tanaman.

Pemupukan dilakukan untuk memberikan nutrisi tambahan bagi tanaman. Pemupukan pertama dilakukan saat tanaman berusia 2-3 bulan dengan pupuk urea sebanyak 100 kg/ha. Pemupukan kedua dilakukan saat tanaman berusia 6-7 bulan dengan pupuk NPK sebanyak 200 kg/ha. Pemupukan ketiga dilakukan saat tanaman berusia 9-10 bulan dengan pupuk kandang sebanyak 10 ton/ha.

Baca Juga  Panduan Lengkap Cara Membuat Google Meet

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan untuk mencegah kerusakan pada tanaman. Hama yang sering menyerang tanaman temulawak adalah ulat, tikus, dan rayap. Penyakit yang sering menyerang tanaman temulawak adalah busuk rimpang, layu bakteri, dan bercak daun. Pengendalian hama dan penyakit bisa dilakukan dengan cara mekanis, biologis, atau kimia.

Cara mekanis adalah dengan memasang perangkap atau jebakan untuk menangkap hama, seperti tikus atau rayap. Cara biologis adalah dengan menggunakan predator alami atau agen hayati untuk membasmi hama atau penyakit, seperti semut atau cacing tanah. Cara kimia adalah dengan menyemprotkan pestisida atau fungisida yang sesuai dengan jenis hama atau penyakit.

Panen dan Pasca Panen

Panen temulawak bisa dilakukan saat tanaman berusia 10-12 bulan. Tanda-tanda tanaman siap panen adalah daunnya menguning dan layu. Panen temulawak dilakukan dengan cara mencabut tanaman dari tanah atau menggali rimpang dengan cangkul. Bersihkan rimpang dari tanah dan akar yang menempel.

Pasca panen temulawak meliputi pengeringan, penyortiran, dan penyimpanan. Pengeringan dilakukan untuk mengurangi kadar air pada rimpang agar tidak mudah busuk. Pengeringan bisa dilakukan dengan cara menjemur rimpang di bawah sinar matahari selama 3-4 hari atau menggunakan oven pada suhu 50-60°C selama 6-8 jam.

Penyortiran dilakukan untuk memisahkan rimpang yang baik dan buruk. Rimpang yang baik adalah yang berwarna kuning, tidak cacat, tidak busuk, dan tidak terserang hama atau penyakit. Rimpang yang buruk adalah yang berwarna coklat, cacat, busuk, atau terserang hama atau penyakit.

Penyimpanan dilakukan untuk menjaga kualitas rimpang agar tetap awet. Penyimpanan bisa dilakukan dengan cara menyimpan rimpang dalam karung goni atau plastik di tempat yang kering, sejuk, dan gelap. Jangan menyimpan rimpang di tempat yang lembab atau terkena sinar matahari langsung.

Baca Juga  Jenis Bunga Yang Disukai Kupu-Kupu

Demikianlah cara menanam temulawak yang baik dan benar. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda yang ingin membudidayakan tanaman obat ini. Selamat mencoba!