SELURUH STAKEHOLDER YANG HADIR DI GUNUNGKIDUL BERTEKAD MEMBAWA INDONESIA SWASEMBADA KAYUPUTIH

ADMIN | Rabu , 4-Des-2019

Balai Besar Litbang BPTH (Yogyakarta, 03/12/2019)_Seluruh stakeholder yang hadir pada acara Penyulingan Perdana Kayuputih, Selasa (03/12/2019) di Kebun dan Penyulingan KTH Kayuputih “Inovasi Tani Makmur 95”, Petak 95 Paliyan-KHDTK Gunungkidul, bertekad membawa Indonesia Swasembada Kayuputih pada 2024. Stakeholder yang hadir yaitu dari kelompok tani, peneliti, birokrat dan pengusaha. 

Kelompok Tani diwakili oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Inovasi Tani Makmur 95, peneliti dari Balai Besar Litbang BPTH, birokrat dari Kemenristek-BRIN dan dari kalangan pengusaha ada PT. Sanggar Agro Karya Persada dan PT. Eagle Indo Pharma.

“Hari ini sangat luar biasa, temanya “Menuju Swasembada Kayuputih”, ini merupakan impian kita semua, tidak hanya PT. Eagle Indo Pharma tetapi semua pihak yang terkait,” ucap Direktur Utama PT. Eagle Indo Pharma, Edy H. Tjugito.

Edy melanjutkan bahwa kelompok tani dalam hal ini juga sebagai pelaku usaha, peneliti, birokrat, dan juga pengguna terakhirnya/hilir, dari empat pihak itu semua terwakili. “Kalau empat pihak ini bekerja sama insya Allah kita pasti berhasil, mari kita bekerjasama untuk menuju swasembada minyak kayuputih ini,” ajak Edy bersemangat.

Sementara itu dalam sambutannya, Kepala Balai Besar Litbang BPTH, Dr. Nur Sumedi, S.Pi.,MP mengatakan bahwa pihaknya bertekad mengembangkan kayuputih menjadi salah satu bagian komoditas strategis ditingkat nasional.

Lebih lanjut Nur Sumedi mengatakan, menurut data dari bea cukai kebutuhan bahan baku minyak untuk industri kemasan minyak kayuputih dalam negeri cukup besar, yaitu mecapai ±3500 ton setiap tahun, dan belum mampu dipenuhi oleh produksi minyak dalam negeri yang hanya mencapai  ±600 ton per tahun.

Sedangkan dari Kemenristek-BRIN diwakili oleh Direktur Inovasi Industri, Ir. Santosa Yudo Warsono, MT. “Kalau bisa kita tidak hanya berhenti disini, kita buat target bersama dalam 5 tahun ke depan Mandiri Kayuputih Dalam Negeri,” ujar Santosa tak kalah semangat.

Potensi yang dimiliki saat ini tidak hanya berada pada level industri besar, tetapi juga ada pada kelompok tani. Kelompok tani ini adalah salah satu contohnya. “Oleh karena kawasan ini nanti akan dijadikan sebagai percontohan maka harus kita kelola secara ekonomi,” tambah Santosa.

Ia juga menekankan bahwa fasilitas yang dimiliki oleh petani juga harus memperhatikan beberapa aspek. Aspek yang dimaksud adalah standar kualitas produk dan keberlanjutan, sehingga ke depan akan ada aspek benefitnya yang bisa dinikmati oleh kelompok tani.

“Tiga aspek ini yang harus menjadi titik bidik ke depan terhadap kawasan ini. Perjalanan yang paling berat adalah menjaga keberlanjutan kawasan percontohan kita ini,” kata Santosa mengingatkan.

Ditemui secara terpisah, salah seorang anggota kelompok tani yaitu Ibu Tri mengatakan bahwa dengan adanya kebun dan penyulingan kayuputih ini dapat meningkatkan perekonomian anggota.

“Harapan kami, harga minyak kayuputih mencapai Rp. 250.000,-/kg yang diterima bersih oleh kelompok tani,” kata Ibu Tri. Apabila harga mencapai angka itu diharapkan kapasitas penyulingan dapat dinaikkan menjadi 5 kwintal dalam sekali penyulingan, dengan begitu keuntungan dapat diterima oleh anggota.

Dalam rangkaian acara penyulingan perdana kayuputih unggul dari kebun kayuputih yang dikelola oleh Balai Besar Litbang BPTH bekerjasama dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) Inovasi Tani Makmur, ditandai dengan penyerahan produksi minyak kayuputih secara simbolis kepada Direktur Utama PT. Eagle Indo Pharma.

Di akhir acara Edy H. Tjugito berpesan kepada kelompok tani, karena minyak atsiri ini mahal, ia mengingatkan untuk tidak mencampurnya dengan minyak kelapa, minyak tanah dan lain-lain. “Saya ingatkan jangan dilakukan, karena itu menghilangkan kepercayaan, kalau kita ingin ekspor pasti hal itu akan dengan mudah diketahui dengan kecanggihan teknologi,” pintanya. 

Kemitraan dengan masyarakat dan kelompok tani dimulai dari kegiatan penanaman kebun kayuputih sampai pada proses penyulingan minyak dan pemasarannya yang dikemas dalam model kemitraan usaha  INTI-PLASMA.  Masyarakat dan kelompok tani pemilik kebun dan produsen minyak kayuputih sebagai PLASMA, sedangkan industri kemasan berbasis bahan baku minyak kayuputih selaku pembeli minyak, yaitu PT EAGLE INDO PHARMA sebagai INTI. 

Kegiatan penyulingan perdana ini dilaksanakan sebagai bagian dari program insentif inovasi industri yang diterima Balai Besar Litbang BPTH dari Kemenristek-BRIN sejak tahun 2017. Kebun kayuputih yang dipanen merupakan kebun yang ditanam menggunakan benih unggul hasil inovasi pemuliaan tanaman kayuputih Balai Besar Litbang BPTH pada lahan seluas 10 hektar di Playen Gunungkidul.

Kegiatan pemuliaan tanaman kayuputih oleh Balai Besar Litbang BPTH ini telah dilaksanakan selama kurun waktu lebih dari 20 tahun sejak tahun 1995. Kegiatan ini merupakan program pemuliaan tanaman kayuputih yang pertama dan terbesar di Indonesia. Penelitian ini dengan fokus keunggulan pada kandungan cineole 1,8 mencapai di atas 65%, dan rendemen minyak kayuputih mencapai di atas 1,2% atau mencapai peningkatan di atas 150% dibandingkan benih biasa. 

Sebagaimana diketahui bahwa tanaman kayuputih dengan nama botanis Melaleuca cajuput ini merupakan tanaman asli Indonesia yang tumbuh secara alami di beberapa lokasi di wilayah Kepulauan Maluku dan menjadi sumber genetik utama dalam program pemuliaan kayuputih oleh Balai Besar Litbang BPTH. (MNA)

Dokumentasi : MNA

 

 Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan :

Jl. Palagan Tentara Pelajar KM15 Purwobinangun Pakem Sleman DI Yogyakarta (Indonesia)

Website                : www.biotifor.or.id

Instagram            : www.instagram.com/biotifor_jogja

Facebook             : www.facebook.com/Balai-Besar-Litbang-BPTH-187407891327294

E-Journal             : http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPTH/index